Seuramoe Forum
Would you like to react to this message? Create an account in a few clicks or log in to continue.



 
HomeSeuramoeSearchRegisterLatest imagesLog in

 

 Rajin Pengajian kok Sesat?

Go down 
AuthorMessage
june.dawn
Co-Admin
june.dawn


Join Date : 2011-06-06
Location : Banda Aceh
Posts : 101
Rajin Pengajian kok Sesat? Left_bar_bleue98 / 10098 / 100Rajin Pengajian kok Sesat? Right_bar_bleue


Rajin Pengajian kok Sesat? Empty
PostSubject: Rajin Pengajian kok Sesat?   Rajin Pengajian kok Sesat? EmptyTue 14 Jun 2011 - 15:53

Apabila kita cermati
munculnya fenomena aliran dan pemahaman yang menyimpang di kalangan
umat Islam -seperti halnya kasus yang sedang banyak dibicarakan yaitu
tentang terorisme berkedok jihad- boleh jadi akan banyak orang yang
merasa heran bercampur kebingungan. bijimana bisa orang yang dikenal
rajin beribadah, aktif mengikuti kegiatan keagamaan, dan menunjukkan
semangat yang tinggi dalam berislam ikut terseret dalam pemahaman yang
sesat? Jawabannya tentu tidak sulit. Sebab bijimana pun
juga semangat keberagamaan yang tidak dilandasi dengan ilmu yang benar
tidaklah mencukupi. Bahkan hal itu bisa membahayakan diri sendiri serta
orang lain. Oleh sebab itu, sebagian ulama salaf memperingatkan,
“Barang siapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka apa yang
dirusaknya lebih banyak daripada yang diperbaiki.” Nah, mungkin ada orang yang mengatakan, “Bukankah mereka itu juga mempelajari al-Qur’an dan hadits, bahkan sudah jadi ustadz. Lalu di mana letak kesalahannya?”Saudaraku
sekalian, semoga Allah menambahkan kepada kita curahan petunjuk dan
bimbingan-Nya. Seringkali kita lihat bahwa ternyata orang-orang yang
menyimpang itu juga membawakan dalil ayat ataupun hadits untuk membela
kekeliruan mereka. Sehingga orang yang tidak paham bisa saja akan
mengiyakan dan minimal ‘memaklumi’ apa yang mereka lakukan. Apalagi
kalau yang berbicara adalah sosok yang dianggap sebagai kyai dan
ditokohkan oleh banyak orang. Sederhana saja, dia cukup mengatakan
bahwa itu ‘kan hasil ijtihad mereka, dan orang yang berijtihad itu
meskipun salah ya tetap berpahala. Intinya mereka yang melakukan bom
bunuh diri dan peledakan gedung itu tidak boleh disalahkan. Lha wong
mereka itu mujahid kok, itulah inti yang dia maksudkan. Mencomot ayat demi mendukung paham sesatSebenarnya
perbuatan mencomot ayat atau hadits dan memelintirnya demi kepentingan
membela pemikiran menyimpang bukanlah perkara baru. Kita masih ingat
bijimana dahulu di masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu orang-orang yang menganut paham Khawarij/pemberontak mengusung ayat inil hukmu illa lillah,
artinya tidak ada hukum kecuali hukum Allah. Ayat itu mereka salah
gunakan untuk mengkafirkan pemerintah yang berkuasa ketika itu yaitu Ali
bin Abi Thalib karena mereka menganggap beliau tidak berhukum dengan
hukum Allah.Padahal apa yang beliau lakukan sama sekali tidak
melanggar hukum Allah bahkan didukung oleh dalil dari al-Qur’an dan
as-Sunnah, sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma
ketika mendebat orang-orang Khawarij. Menghadapi tudingan itu, dengan
cerdas Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu mengomentari sikap mereka
yang tidak bisa memahami ayat secara utuh, كَلِمَةُ حَقٍّ أُرِيدَ بِهَا بَاطِلٌ“Itu adalah ucapan yang benar, namun maksudnya batil.” (HR. Muslim dari Ubaidullah bin Abi Rafi’ radhiyallahu’anhu)Dari
kejadian ini, kita bisa memetik pelajaran berharga bahwa semata-mata
membawakan ayat atau hadits untuk mendukung suatu pendapat atau
keyakinan tidaklah cukup apabila tidak diiringi dengan pemahaman serta
metode penarikan kesimpulan hukum/istidlal dan istinbath yang benar.Selain
kejadian di atas, sebenarnya masih banyak contoh lainnya. Di antaranya
adalah model penafsiran (lebih tepat dikatakan pemelintiran) makna
‘Islam’ yang dilakukan oleh penganut ajaran Islam Liberal. Mereka
mengatakan bahwa istilah islam atau muslim itu tidak hanya mencakup
pemeluk agama Islam. Menurut anggapan mereka, Islam adalah bentuk
kepasrahan diri kepada Yang Maha benar, yaitu Allah. Maka di masa
sekarang ini -menurut keyakinan mereka- siapa saja dan dari agama mana
pun bisa menjadi muslim tanpa harus mengikuti agama Nabi Muhammad
shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bagi mereka cukuplah seorang dikatakan
sebagai muslim jika meyakini Allah itu ada dan meyakini adanya hari
akhir yang mereka tafsirkan dengan masa depan. Padahal, kita semua sudah
sama-sama mengerti bahwa Islam yang diterima oleh Allah -setelah
diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam- adalah apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, وَالَّذِي
نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ
الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ
بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ
“Demi
Tuhan yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah ada seorang
pun yang mendengar kenabianku di kalangan umat ini, baik Yahudi ataupun
Nasrani kemudian dia mati dalam keadaan tidak beriman dengan ajaranku
ini niscaya dia akan tergolong penduduk neraka.”
(HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu)
Demikian pula banyak orang yang meyakini bahwa Allah itu ada di mana-mana. Mereka membawakan ayat wahuwa ma’akum ainama kuntum, “Dan Dia bersama kalian di mana pun kalian berada.”
Padahal Allah ta’ala sendiri telah menegaskan dalam banyak ayat
demikian pula Nabi dalam banyak hadits bahwa Allah itu tinggi berada di
atas langit, di atas Arsy-Nya. Secara naluri dan fitrah, ketika orang
berdoa niscaya dia akan menengadahkan telapak tangannya dan
mengangkatnya ke atas, bahkan sampai-sampai ada yang mendongakkan
kepalanya. Apa itu artinya? Artinya setiap orang yang masih bersih
fitrahnya akan meyakini bahwa Allah itu di atas. Bahkan tidak jarang
kita dengar sebagian orang yang notabene jauh dari aktifitas agama kalau
menemukan masalah atau musibah, maka dia pun berkata, “Ya kita serahkan saja pada yang di atas.”Itu
beberapa contoh pemelintiran ayat yang dilakukan oleh sebagian orang.
Mereka mengira bahwa apa yang mereka yakini adalah benar, namun
ternyata keliru. Sungguh malang keadaan yang menimpa mereka, semoga
Allah memberikan petunjuk-Nya kepada kita dan mereka. Menyingkirkan yang jelas dan menonjolkan yang samarPembaca
sekalian, semoga Allah mengarahkan gerak langkah kita di atas
jalan-Nya. Salah satu ciri paling menonjol yang dimiliki oleh kaum
ahlul bid’ah (penyeru kebid’ahan) dari sejak dulu hingga sekarang adalah
gemar menggunakan dalil-dalil yang masih samar untuk mendukung
pemikiran mereka dan kemudian menyingkirkan, menutup-nutupi, atau
menyimpangkan makna dalil-dalil lain yang sudah tegas dan jelas. Seperti
contoh kasus yang dibawakan di atas. Dalil yang samar itu biasa
disebut sebagai ayat-ayat yang mutasyabih, sedangkan dalil yang jelas
itu biasa disebut sebagai ayat-ayat yang muhkam. Allah telah
menjelaskan hal ini di dalam firman-Nya, هُوَ
الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ
أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي
قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ
الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ
“Dialah
-Allah- yang telah menurunkan kepadamu Kitab suci itu, di antaranya ada
ayat-ayat yang muhkam yaitu Ummul Kitab sedangkan yang lain adalah
ayat-ayat mutasyabihat. Adapun orang-orang yang di dalam hatinya
menyimpan penyimpangan/zaigh maka mereka akan mengikuti ayat yang
mutasyabih itu demi menimbulkan fitnah dan ingin menyimpangkan
maknanya…”
(Qs. Ali Imran: 7)
Ibnu Juraij menjelaskan maksud ungkapan ‘orang-orang yang di dalam hatinya tersimpan penyimpangan’ di dalam ayat ini, “Mereka itu adalah orang-orang munafik.” Hasan al-Bashri berkata, “Mereka itu adalah kaum Khawarij.” Qatadah apabila membaca ayat tersebut maka beliau mengatakan, “Apabila mereka itu bukan Haruriyah (Khawarij, pen) dan Saba’iyah (Syi’ah, pen) maka aku tidak tahu lagi siapakah mereka itu.” al-Baghawi berkata, “Ada pula yang berpendapat bahwa ayat ini mencakup semua ahli bid’ah.” (Ma’alim at-Tanzil karya Imam al-Baghawi [2/9] as-Syamilah)‘Aisyah radhiyallahu’anha meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فَإِذَا رَأَيْتِ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ فَأُولَئِكِ الَّذِينَ سَمَّى اللَّهُ فَاحْذَرُوهُمْ“Apabila
kamu melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat mustasyabihat maka
mereka itulah orang-orang yang disebut oleh Allah -di dalam ayat tadi-
maka waspadalah kamu dari bahaya mereka.”
(HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dll)
Penulis
syarah Sunan Abu Dawud berkata, “Ayat ini berlaku umum bagi semua
kelompok yang melenceng dari kebenaran yaitu dari kalangan
kelompok-kelompok bid’ah. Sesungguhnya mereka itu sering mempermainkan
Kitabullah dengan permainan yang sangat keterlaluan, kemudian mereka
menarik kesimpulan hukum dari ayat-ayat itu yang sebenarnya sama sekali
tidak mengandung penunjukan atas apa yang mereka yakini, namun hanya
demi menyembunyikan kebodohan diri mereka.” (Aun al-Ma’bud [10/117] as-Syamilah)Nah,
inilah yang terjadi. Jarang sekali ada orang yang berbuat bid’ah
-terutama tokohnya- tidak membawakan ayat atau hadits untuk mendukung
keyakinan dan pemahaman mereka yang keliru. Sehingga alangkah tidak
tepat apabila ada orang yang berkeyakinan, “Yang penting kan ada dalilnya.” Atau berkata, “Kamu ini jangan suka menyalahkan orang lain. Kebenaran itu milik Allah, bukan milik kamu!” Atau dengan ungkapan, “Mbok ya toleransi dengan orang lain yang berbeda pendapat denganmu. Jangan jadi orang yang maunya menang sendiri.” Ada lagi yang berujar, “Yang penting kan niatnya. Innamal a’malu bin niyat, iya kan?!” Atau berkata, “Jadi orang itu jangan picik, semua orang kan bebas berpendapat.” Dan seabrek
celotehan lain yang pada hakikatnya adalah bertujuan untuk
menyimpangkan manusia dari jalan kebenaran. Orang yang tidak mengerti
akan manggut-manggut dan takluk di bawah silat lidah mereka yang tidak
bermutu itu. Allahul musta’an (Allah semata tempat kita minta pertolongan). Salah penafsiranUntuk
menunjukkan kepada pembaca sekalian tentang bukti kejahatan kaum ahli
bid’ah ini terhadap dalil syari’at maka berikut ini kami bawakan sebuah
ayat yang dicomot oleh sebagian kalangan untuk membela pendapat yang
menyatakan bahwa terorisme itu adalah bagian dari ajaran Islam. Allah
ta’ala berfirman,وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ“Dan
persiapkanlah untuk menghadapi mereka -musuh- kekuatan apa saja yang
kalian sanggupi, kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan
persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuh kalian…”
(QS. al-Anfal: 60)
Mereka menafsirkan kata irhab
(menggentarkan musuh) di dalam ayat ini dengan istilah teror. Sehingga
melakukan teror kepada orang-orang kafir -selama mereka dianggap
‘memusuhi’ Islam- adalah sah-sah saja, bahkan berpahala karena itu
adalah bagian dari jihad. bijimana kita menjawab syubhat/kerancuan
ini?Syaikh Abdullah bin al-Kailani berkata menjelaskan maksud ayat ini, “Sesungguhnya irhab/menggentarkan
yang diperintahkan sebagaimana tertera di dalam al-Qur’an al-Karim itu
khusus berlaku bagi orang-orang [kafir] yang melampaui batas dengan
tujuan memalingkan mereka dari tindakan permusuhan yang mereka lakukan
di saat hal itu mereka lancarkan (di saat perang maksudnya, pen). Akan
tetapi maksud irhab di sini bukanlah irhab/teror yang
sengaja melanggar batas sebagaimana yang dimaknakan di masa kini yang
pada hakikatnya justru ditolak oleh ajaran Islam.” (al-Irhab wal Unuf wa at-Tatharruf fi Dhau’i al-Kitab wa as-Sunnah, hal. 12 as-Syamilah)Oleh
sebab itu Majma’ al-Fiqhi al-Islami dalam konferensi ke-13 yang
diselenggarakan pada tanggal 26 Syawwal 1422 H (10 Januari 2002) di
Rabithah al-’Alam al-Islami di Mekah Mukarramah telah menetapkan
bahwasanya gerakan radikal, mengumbar kekerasan, dan terorisme sama
sekali tidak termasuk bagian dari ajaran Islam. Lembaga ini juga
menyatakan bahwa perbuatan itu adalah tindakan yang membahayakan serta
menimbulkan dampak yang buruk dan keji. Di dalamnya terkandung tindakan
yang melampaui batas dan kezaliman terhadap manusia (lihat al-Irhab, al-Mafhum wa al-Asbab wa Subul al-’Ilaj, hal. 16 as-Syamilah)Syaikh
Abdurrahman bin Mu’alla al-Luwaihiq menjelaskan bahwa dengan
pengkajian lebih dalam dapat disimpulkan bahwa sebagian sisi persoalan
terorisme ini telah dibahas oleh para ulama aqidah dan fiqih serta telah
dijelaskan hukum-hukumnya di dalam bab khusus yang dinamai Bab Qital
ahlil baghyi yang artinya: memerangi pembuat kekacauan (al-Irhab wa al-Ghuluww,
hal. 28 as-Syamilah). Dan dari sisi yang lain orang-orang yang
melakukan teror ini pun dapat dikategorikan sebagai pengusung paham
Khawarij, penebar kerusakan di atas muka bumi, dan termasuk kategori
orang yang bertindak ghuluw/melampaui batas. Yang jelas Allah ta’ala
tidak mencintai orang-orang yang membuat kerusakan. Allah ta’ala
berfirman, وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ“Janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang menebarkan kerusakan.” (Qs. al-Qashash: 77)Bahkan
Allah memberikan hukuman yang sangat keras bagi orang-orang yang gemar
menebar teror dan kerusakan di muka bumi ini. Allah ta’ala berfirman, إِنَّمَا
جَزَاءُ الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي
الْأَرْضِ فَسَادًا أَنْ يُقَتَّلُوا أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْ تُقَطَّعَ
أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ مِنْ خِلَافٍ أَوْ يُنْفَوْا مِنَ الْأَرْضِ
ذَلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ
عَظِيمٌ
“Sesungguhnya pembalasan terhadap
orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di
muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan
dan kaki mereka dengan bersilang, atau dibuang dari negeri (tempat
kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka
di dunia, dan di akhirat mereka berhak memperoleh siksaan yang besar.”
(Qs. al-Ma’idah: 33)
Di dalam tafsirnya Syaikh as-Sa’di rahimahullah
berkata, “Orang-orang yang memerangi Allah dan rasul-Nya itu adalah
orang-orang yang secara terus terang memusuhi Allah serta membuat
kerusakan di muka bumi dalam bentuk kekafiran, pembunuhan, perampasan
harta, maupun menebarkan rasa takut di jalan-jalan.” (Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 229-230).Pendapat
yang populer menyatakan bahwa ayat ini berbicara tentang hukuman yang
dijatuhkan kepada perampok. Apabila mereka melakukan perampokan
sekaligus pembunuhan maka mereka berhak untuk dihukum bunuh dan disalib
sebagai pelajaran dan peringatan bagi orang-orang selain mereka.
Apabila mereka membunuh namun tidak merampas harta maka mereka cukup
dihukum bunuh, tanpa disalib. Apabila mereka hanya merampas harta dan
tidak melakukan pembunuhan maka hukuman bagi mereka adalah dipotong
tangan dan kaki mereka secara bersilang, yaitu tangan kanan dan kaki
kirinya yang dipotong. Apabila mereka menakut-nakuti orang tanpa
disertai dengan pembunuhan dan perampasan harta (ancaman bom misalnya,
pen) maka mereka diusir dari negerinya dan tidak boleh menetap terus
menerus di suatu daerah selama taubat mereka belum tampak nyata. Inilah
pendapat Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma serta banyak ulama lainnya,
meskipun dalam sebagian perkara mereka berbeda pendapat (Diringkas dari Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 230).Kemudian, Syaikh as-Sa’di rahimahullah
juga menyampaikan pelajaran yang sangat berharga -semoga kita bisa
meresapi hikmahnya-, “Apabila kejahatan ini sedemikian besar
persoalannya dapatlah diketahui bahwasanya membersihkan muka bumi ini
dari para penebar kerusakan, menjaga keamanan jalan dari ancaman
pembunuhan dan perampokan harta serta membebaskan cekaman rasa takut
dari masyarakat merupakan salah satu kebaikan yang paling baik,
ketaatan yang paling mulia, dan merupakan bentuk perbaikan di muka
bumi. Sebagaimana pula lawannya dikategorikan sebagai tindak perusakan
di muka bumi.” (Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 230).Inilah
kesimpulan cerdas seorang ulama tafsir mumpuni dan memiliki kapasitas
untuk berijtihad seperti beliau. Amat berbeda dengan kesimpulan
penafsiran yang dilontarkan oleh sebagian orang yang dijuluki sebagai
ustadz dan kiyai tapi tidak mengerti manhaj/metode penafsiran yang
benar terhadap ayat-ayat dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Setelah merenungkan hal ini baik-baik, kita sangat berharap agar
saudara kita yang salah jalan -dan masih hidup- mau menyadari
kekeliruannya, bertaubat, dan segera kembali kepada jalan yang lurus,
yaitu jalannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.Yogyakarta, 23 Sya’ban 1430 H*** Penulis: Abu Mushlih Ari WahyudiArtikel www.muslim.or.id http://muslim.or.id/manhaj/rajin-pengajian-kok-sesat.html
Back to top Go down
 
Rajin Pengajian kok Sesat?
Back to top 
Page 1 of 1
 Similar topics
-
» Kata–kata Mutiara Yang Sesat dan Menyesatkan

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Seuramoe Forum :: ● RELIGI & SPIRITUAL ● :: Islam Itu Indah :: Adab & Perilaku-
Jump to: